Dentang Gong Jadi Pembuka Pasopati 2026 Awal Perjalanan 890 Mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan

Table of Contents

 

PASURUAN – Pagi itu, bertempat di Lapangan Universitas Yudharta Pasuruan dipenuhi wajah wajah baru. Sebagian tersenyum penuh antusias, sebagian lain tampak masih menyesuaikan diri dengan lingkungan yang belum sepenuhnya akrab. Kamis, 17 September 2026, menjadi hari pertama bagi 890 mahasiswa baru menapaki dunia kampus. Sebuah fase yang akan mengubah banyak hal dalam hidup mereka.

Suasana berubah ketika dentang gong menggema. Satu pukulan yang sederhana, namun sarat makna. Ia bukan sekadar penanda dimulainya acara, melainkan simbol dimulainya perjalanan panjang bagi mahasiswa baru dalam rangkaian Pasopati 2026 Universitas Yudharta Pasuruan.

Mengusung tema Nakshatra Vikasha Disha, Pasopati 2026 dirancang sebagai ruang awal bagi mahasiswa untuk mengenal dunia akademik, budaya kampus, serta arah perjalanan mereka ke depan. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai 17 hingga 21 September 2026, dengan berbagai agenda pengenalan kampus, diskusi, hingga kegiatan kreatif dan kebudayaan.

Namun, lebih dari sekadar rangkaian kegiatan, Pasopati menjadi titik temu pertama antara mahasiswa baru dengan nilai-nilai yang akan mereka jalani selama menempuh pendidikan tinggi. Berbagai sambutan yang disampaikan dalam pembukaan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi bekal awal bagi para mahasiswa.

Ketua Pelaksana Pasopati 2026, A. Fakhris Shobirin, membuka dengan ungkapan syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas terlaksananya Pasopati 2026 ini. Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal yang baik bagi mahasiswa baru dalam menapaki perjalanan akademiknya,” ujarnya.

Semangat kemudian ditegaskan oleh Ketua BEM Universitas Yudharta Pasuruan, Fatkhur Rozi, yang mengingatkan peran penting mahasiswa.

“Mahasiswa adalah agent of change. Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, baik melalui organisasi, UKM, maupun pengabdian, agar kita mampu melahirkan generasi emas,” tuturnya. 

Pesan serupa disampaikan oleh Ketua MPM, M. Ali Murtadho, yang menekankan pentingnya pengembangan diri.

“Teruslah berkembang, karena kita adalah generasi muda yang akan membawa perubahan di masa depan,” katanya.

Dari sisi pimpinan universitas, Rektor Universitas Yudharta Pasuruan, Prof. Dr. H. Kholid Murtadlo, S.E., M.E. mengajak mahasiswa untuk menjadikan kampus bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi juga sebagai ruang untuk bertumbuh, berproses, dan membentuk jati diri.

“Kampus ini adalah tempat untuk belajar, berkembang, dan membangun masa depan. Gunakan setiap kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Jadikan setiap pengalaman, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, sebagai bekal untuk memperluas wawasan, mengasah kemampuan, serta membangun karakter yang kuat sebagai generasi penerus bangsa,” ungkapnya.

Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Bupati Pasuruan, H. Mochamad Rusdi Sutejo, S.M., menyampaikan apresiasi sekaligus harapan kepada para mahasiswa baru yang memulai perjalanan akademiknya di Universitas Yudharta Pasuruan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini dan atas semangat yang ditunjukkan oleh para mahasiswa baru. Kami berharap kalian tetap konsisten dalam belajar, terus mengembangkan potensi diri, serta mampu menjadi generasi yang membawa kemajuan, tidak hanya bagi daerah, tetapi juga bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai generasi penerus yang memiliki tanggung jawab besar dalam menghadapi tantangan zaman.

“Mahasiswa hari ini adalah pemimpin masa depan. Oleh karena itu, manfaatkan kesempatan selama di bangku perkuliahan untuk memperkuat kapasitas diri, memperluas wawasan, serta membangun karakter yang tangguh dan berintegritas,” lanjutnya.

Melalui pesan tersebut, pemerintah daerah berharap kehadiran mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari dunia akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta pembangunan daerah di masa mendatang.

Salah satu momen yang paling terasa adalah ketika perwakilan umat beragama turut menyampaikan pesan. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, nilai kebersamaan dalam keberagaman ditegaskan sebagai bagian penting dalam kehidupan kampus—sebuah ruang di mana perbedaan tidak menjadi batas, melainkan jembatan untuk saling memahami.

“Mari kita junjung tinggi nilai kebudayaan dan keagamaan, serta menjaga semangat kebersamaan dalam keberagaman,” disampaikan dalam sambutan tersebut.

Pesan itu bukan sekadar ajakan, tetapi juga pengingat bahwa dunia kampus adalah miniatur masyarakat yang dihuni oleh beragam latar belakang, keyakinan, dan budaya. Di dalamnya, sikap saling menghormati dan toleransi menjadi fondasi utama untuk membangun lingkungan yang harmonis dan inklusif.

Suasana semakin khidmat ketika KH. Sholeh Bahrudin, Pengasuh Yayasan Darut Taqwa, menyampaikan mauidhoh dan doa. Dalam balutan ketenangan, pesan-pesan yang disampaikan mengajak seluruh mahasiswa untuk merenungi makna sejati dari menuntut ilmu, tidak hanya sebagai kewajiban akademik, tetapi juga sebagai jalan pengabdian dan pembentukan diri.

“Dalam menuntut ilmu, niatkan dengan sungguh-sungguh dan jadikan ilmu sebagai jalan menuju kebaikan. Jangan hanya mengejar pengetahuan semata, tetapi juga keikhlasan, adab, dan keberkahan di dalamnya. Karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mampu membawa kebaikan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain dan lingkungan sekitar,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi dalam belajar serta tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan selama menempuh pendidikan.

“Perjalanan mencari ilmu tidak selalu mudah, akan ada ujian dan rintangan. Namun, dengan niat yang lurus, kesungguhan, dan doa, insyaAllah setiap langkah akan dimudahkan,” lanjutnya.

Mauidhoh tersebut kemudian ditutup dengan doa yang dipanjatkan untuk seluruh mahasiswa baru, memohon agar mereka diberikan kemudahan, kelancaran, serta keberkahan dalam menempuh perjalanan akademik di Universitas Yudharta Pasuruan.

Usai prosesi resmi, suasana berubah menjadi lebih hidup. Iringan musik dan gerak tari mulai memenuhi area kegiatan. Penampilan Reog Ponorogo menjadi daya tarik utama yang langsung menyedot perhatian peserta. Diikuti berbagai pertunjukan lain seperti Tari Wiratri, Saman, Pagar Nusa, hingga El-Izzah, panggung Pasopati menghadirkan perpaduan antara budaya, kreativitas, dan semangat kebersamaan.
Momen ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya kepada mahasiswa baru sejak hari pertama mereka di kampus. Bagi 890 mahasiswa baru, Pasopati bukan sekadar kegiatan penyambutan. Ia adalah gerbang awal menuju perjalanan panjang untuk belajar, bertumbuh, dan menemukan jati diri.

Dalam lima hari ke depan, mereka akan mengenal lingkungan baru, membangun relasi, serta mulai memahami peran mereka sebagai bagian dari sivitas akademika. 

fisip
fisip Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Yudharta Pasuruan

Post a Comment